Tampilkan postingan dengan label Sayudan Raya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sayudan Raya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 November 2011

Persip Pekalongan Datangkan Pemain Asing Asal Nigeria

Pengurus Persatuan Sepak Bola Kota Pekalongan, Jawa Tengah, segera mendatangkan pemain asing berasal dari Nigeria untuk memperkuat kesebelasan kebanggaan warga setempat pada kompetisi profesional level dua.

Manajer Persip Pekalongan, Rudi Setiawan di Pekalongan, Jumat, mengatakan saat ini, Persip masih memanfaatkan 12 pemain yang pernah memperkuat tim pada kompetisi Divisi I dan tiga pemain yang berstatus magang.

"Namun, untuk menambah kekuatan tim kami akan mendatangkan pemain asing berasal dari Negeria, Gabriel," katanya.
Ia mengatakan manajemen sudah menghubungi Gabriel dan ia siap bergabung dengan tim kesebelasan `Laskar Kalong` pada kompetisi profesional level dua yang rencananya digelar November 2011.

"Menurut Gabriel saat kami hubungi akan membawa tiga rekan pemain asalnya negaranya ke Kota Pekalongan. Namun siapa teman yang akan dibawa Gabriel itu kami belum mengtahuinya," katanya.
Menurut dia pemain asal Nigeria tersebut sudah tidak asing lagi bagi warga Kota Pekalongan karena Gabriel pernah memperkuat Persip pada ajang kompetisi lokal `Bumirejo Cup`, katanya.
Bahkan, katanya, pemain yang berposisi di lini depan itu sudah menunjukan kekompakan dan menikmati saat memperkuat kesebelasan Persip Pekalongan.

"Saat kompetisi, Gabriel dipasangkan dengan Nur Coyo di lini depan dan kami menilai kedua pemain tersebut bisa menunjukan permainan dengan kompak dan baik," katanya.
Ia mengatakan dengan ditambahnya pemain asing itu dipastikan akan menambah kekuatan tim kesebelasan Persip dalam mengikuti kompetisi profesional level dua.

"Keikutsertaan Persip Pekalongan pada kompetisi profesional level dua ingin meraih prestasi dan bukan sebagai peserta penggembira meski kami dihadapkan pada keterbatasan pendanaan," katanya.
Read more »

Minggu, 05 Juni 2011

Photo-Photo Kota Pekalongan


1. PEKALONGAN TEMPO DULU

# Balai Kota #

 # Bioskop Irma #

 # Bioskop Rex dan Capitol #

 # Gapuro Pecinan #

# Jembatan Loji # 

 # Masjid Kauman #



2. GEDUNG-GEDUNG KUNO


# Gereja #

 # Gudang Garam #

# Klenteng #

 # Menara PDAM #

# Masjid Agung #

 # Museum Batik #



 3. BATIK PEKALONGAN

# Batik Tulis 1 #

 # Batik Tulis 2 #

 # Ngeler #

# Niti'i #

 # Nyolet #



4. PEKALONGAN MALAM HARI

 # Museum Batik #

 # Suasana Malam Hari #

 # Keramahan Wong Pekalongan #

 # Alun - alun #

 # Alun - alun #



5. PANTAI PEKALONGAN

 # Pantai 1 #

  # Pantai 2 #

  # Pantai 3 #

  # Pantai 4 #

  # Pantai 5 #

 # Pantai 6 #
Read more »

SEJARAH KOTA PEKALONGAN


Asal usul nama Kota Pekalongan sebagaimana diungkapkan oleh masyarakat secara turun temurun terdapat beberapa versi. Salah satunya disebutkan adalah pada masa Baurekso menjadi Bupati Pekalongan dan juga sebagai Tokoh Panglima Kerajaan Mataram. Pada tahun 1628 beliau mendapat perintah dari Sultan Agung untuk menyerang kompeni di Batavia. Maka ia berjuang keras, bahkan diawali dengan bertapa seperti kalong / kelelawar (bahasa Jawa topo ngalong) di di hutan gambiran (sekarang : kampung Gambaran). Dalam pertapaannya diceritakan bahwa Ki Baurekso digoda dan diganggu prajurit siluman utusan Dewi Lanjar, namun tidak berhasil bahkan Dewi Lanjar dipersunting Baurekso sebagai isterinya. Sejak saat itu, daerah tersebut terkenal dengan nama Pekalongan. Dalam versi lain disebutkan bahwa nama Pekalongan juga berasal dari kata Apek dan Along (bahasa jawa : apek (mencari), along (banyak). Hal ini berkaitan dengan perairan laut di daerah Pekalongan yang kaya hasil ikannya.

Kota Pekalongan adalah salah satu dari 35 Kota / Kabupaten di Wilayah Propinsi Jawa Tengah. Dalam Perkembangannya menuju persaingan bebas, Pemerintah Kota Pekalongan terus berbenah menggali potensi-potensi yang ada. Selama ini Kota Pekalongan telah dikenal sebagai KOTA BATIK yang merupakan sentra produksi dan penjualan Batik dalam skala besar yang telah menjangkau Pasar Nasional maupun Internasional., Kota Pekalongan boleh dikatakan telah menjadi salah satu kota referensi bagi produk-produk Batik, baik secara Nasional maupun Internasional hal ini diperkuat dengan telah diresmikannnya sebuah Museum Batik Nasional oleh Presiden Republik Indonesia (Bapak Susilo Bambang Yudhoyono) pada tanggal 12 Juli 2006. Selain Batik Kota Pekalongan juga memiliki potensi usaha di bidang Perikanan dengan Pelabuhan Perikanan Nusantara yang pernah menjadi sentra penghasil ikan terbesar di Indonesia, potensi lainnya adalah adanya Peninggalan Bangunan Bersejarah, Wisata Belanja, Seni Budaya yang religius, Obyek Wisata Pantai Pasir Kencana dan Pantai Slamaran Indah serta Pemandian Air Panas Tirta Bumi. Di Kota Pekalongan. Masyarakat Kota Pekalongan terdiri dari berbagai etnis, dengan mayoritasnya etnis Jawa, ditambah etnis Arab dan China. Sejak dahulu masyarakat Kota Pekalongan yang mayoritas beragama Islam dikenal sangat religius dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Sifat Religius itu terlihat dimana pada hari Jum'at pada umumnya bidang usaha tutup, banyaknya sekolah dan pendidikan non formal yang mengajarkan ajaran Islam serta terpeliharanya Seni dan Budaya Islam. Masyarakat Etnis China yang jumlahnya cukup banyak dan sudah membaur dengan etnis jawa juga melesterikan budaya yang mereka bawa dari nenek moyang nya. Hal ini terlihat dengan adanya rumah-rumah ibadah masyarakat Budha serta seni dan budayanya yang masih dilestarikan. Kehidupan sosial dan ekonomi memacu pertumbuhan berbagai bidang usaha maupun kebutuhan hidup lainnya, termasuk dalam bidang pariwisata. Dengan adanya kebutuhan untuk mendayagunakan semua sumber daya serta meningkatkan pendapatan daerah, memperluas lapangan kerja, kesempatan berusaha serta memperkenalkan potensi wisata, maka Pemerintah Kota Pekalongan perlu meningkatkan program pembangunan pariwisata yang antara lain melalui pengelolaan dan pemanfaatan obyek wisata dan penggalian obyek wisata baru yang sudah ada namun belum dikembangkan.

SEJARAH TERBENTUKNYA PEMERINTAH KOTA PEKALONGAN

Pada Pertengahan abad XIX dikalangan kaum liberal Belanda muncul pemikiran etis - selanjutnya dikenal sebagai politik Etis - yang menyerukan Program Desentralisasi Kekuasaan Administratif yang memberikan hak otonomi kepada setiap Karesidenan (Gewest) dan Kota Besar (Gumentee) serta pembentukan dewan-dewan daerah diwilayah administratif tersebut. Pemikiran kaum liberal ini ditanggapi oleh Pemerintah Kerajaan Belanda dengan dikeluarkannya Staatblaad Nomer 329 Tahun 1903 yang menjadi dasar hukum pemberian hak otonomi kepada residensi (gewest); dan untuk Kota Pekalongan , hal otonomi ini diatur dalam Staatblaad Nomer 124 tahun 1906 tanggal 1 April 1906 tentang Decentralisatie Afzondering van Gemiddelan voor de Hoofplaats Pekalongan ult de Algemenee Geldmiddelan van Nederlandsch Indie Instelling van een Gumeenteraad de dier Plaatse yang berlaku sejak tanggal ditetapkan.
Pada tanggal 8 Maret 1942 Pemerintah Hindia Belanda menandatangani penyerahan kekuasaan kepada tentara Jepang, Jepang menghapus keberadaan dewan - dewan daerah, sedangkan Kabupaten dan Kotamadya diteruskan dan hanya menjalankan pemerintahan dekonsentrasi.
Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh dwitunggal Soekarno-Hatta di Jakarta, ditindaklanjuti rakyat Pekalongan dengan mengangkat senjata untuk merebut markas Tentara Jepang pada tanggal 3 Oktober 1945. Perjuangan  ini berhasil, sehingga pada tanggal 7 Oktober 1945 Pekalongan bebas dari Tentara Jepang.
Secara Yuridis formal, Kota Pekalongan dibentuk berdasarkan Undang - Undang Nomer 16 Tahun 1950  tentang pembentukan daerah Kota besar dalam lingkungan Jawa Barat/Jawa Tengah/ Jawa Timur dan Daerah Istimewa Jogjakarta. Selanjutnya dengan terbitnya Undang-Undang Nomer 18 Tahun 1965 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, maka Pekalongan berubah sebutanya menjadi Kotamadya Dati II pekalongan.
Terbitnya PP Nomer 21 Tahun 1988 tanggal 5 Desember 1989 dan ditindaklanjuti dengan Inmendagri Nomer 3 Tahun 1989 merubah batas wilayah Kotamadya Dati II Pekalongan sehingga luas wilayahnya berubah dari 1.755 Ha menjadi 4.465,24 Ha dan terdiri dari 4 kecamatan, 22 desa dan 24 kelurahan.
Sejalan dengan era reformasi yang menuntut adanya reformasi di segala bidang, diterbitkan PP Nomer 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan PP Nomer 32 Tahun 2004 yang mengubah sebutan Kotamadya Dati II Pekalongan menjadi Kota Pekalongan.
Read more »

Selasa, 15 Maret 2011

Kebiasan Syawalan di Sayudan

Inilah kisah cerita tentang sebuah Desa di kota Pekalongan. Dimana para pemudanya menunjukkan kreatifitasnya. Kampung tersebut berada di tengah kota Pekalongan yang begitu indah dengan keramahan para penduduknya, tepatnya di kelurahan Kebulen (Desa Sayudan) Pekalongan. Banyak cerita dan kisah di kampung ini. Hari itu adalah dimana umat islam merayakan kemenangannya yaitu Hari Raya Idul Fitri. Sudah menjadi kebiasaan di semua kampung kota Pekalongan, setiap hari raya itu mereka akan meramaikan dengan sebuah kreatifitas yang memang tidak ada di kota-kota lain. Inilah yang menjadikan kota Pekalongan begitu berbeda dengan kota-kota lain. Banyak dari masyarakat yang berasal dari daerah lainpun merasakan kemeriahan di kota ini. Inilah kotaku kota Pekalongan. Dimana setiap hari raya besar islam, masyarakat Pekalongan membuat balon dari berbagai macam bentuk. Ada berbentuk bulat, lonjong, kotak, kadang juga yang bentuknya tidak bisa dipastikan. Tapi inilah wujud kreatifitas pemuda Pekalongan. Terutama di kampung Sayudan ini, para pemuda sudah bersiap-siap untuk meluncurkan balon udara yang telah dibuat  2 malam berturut-turut. Ingin lihat balonnya? inilah balon tersebut :



















Inilah hasil karya pemuda Pekalongan Keluarahan Kebulen (Desa Sayudan). Ingin liat lebih banyak lagi? datanglah ke kota Pekalongan. Dimanapun anda berada terutama di  Desa Sayudan, anda akan mendapatkan kemeriahan yang sama di desa-desa Pekalongan lainnya. 

Unjuk kreatifitas untuk merayakan dan  meramaikan hari besar islam. Sangat unik dan menarik........
Read more »

 
Great HTML Templates from easytemplates.com.